Pagi itu sempat tertegun saat membaca quotes bijak yang begitu menginspirasi dan memotivasi aku agar tetap semangat dalam berbagi ilmu atau kebaikan untuk anak didik tercinta. Dan seperti inilah quotesnya : "Kamu calon konglomerat, ya? Kamu harus rajin belajar dan membaca, tapi jangan ditelan sendiri. Berbagilah dengan teman-teman yang tak dapat pendidikan. " Oleh : Wiji Thukul.
Quotes tersebut memiliki makna dalam tentang rasa bersyukur kita ketika mendapatkan pendidikan. Untuk meraih kesuksesan harus rajin belajar dan juga membaca tapi ingatlah satu hal bahwa semua ilmu yang telah dimiliki janganlah hanya digunakan sendiri karena di luar sana masih banyak orang yang belum berkesempatan untuk mendapatkan berpendidikan. Jadi, berbagilah dengan mereka yang belum mendapatkan pendidikan tersebut dengan kita senantiasa berbagi kebaikan melalui ilmu yang bermanfaat InsyaAllah akan menjadi ladang pahala tak terhingga.
Dari sepenggal quote di atas, kita bisa menteladani dari perjuangan sosok Rahmat Hidayat HM sebagai founder floating School atau Sekolah Terapung. Penasaran seperti apa cerita dari Rahmat Hidayat tentang floating school yang didirikannya bisa simak ulasannya berikut ini :
● Alasan Mendirikan Sekolah Terapung
Rahmat begitulah panggilannya berasal dari Kabupaten Pangkep (Pangkajene Kepulauan) Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia dimana terdiri dari 117 pulau kecil. Keadaan pulau-pulau tersebut mungkin agak terisolasi karena kurangnya listrik dan konektivitas internet yang ada walaupun beberapa pulau tersedia sekolah dasar tapi tetap saja saat melanjutkan sekolah menengah ke atas harus melakukan perjalanan ke pulau-pulau besar atau daratan di Sulawesi Selatan.
Tentunya sekolah tersebut telah mengikuti kurikulum nasional tapi sayangnya tidak ada mata pelajaran seperti renang, keterampilan maritim atau tradisi memancing setempat sesuai dengan konteks lingkungan yang ada sehingga kurikulumnya tidak relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Sedihnya lagi, disebabkan faktor ekonomi beberapa dari anak muda di sana tidak dapat melanjutkan pendidikan karena membantu orangtuanya dengan menangkap ikan di laut dengan waktu tak terbatas. Rahmat termasuk anak muda beruntung tetap dapat melanjutkan pendidikan tinggi dan berharap generasi muda lainnya merasa bangga tinggal di pulau tersebut dan tetap menjaga tradisi serta lingkungan di sana.
● Sekolah Terapung dan Fungsinya
Jadi, Sekolah Terapung merupakan perahu kayu yang mampu mengangkut hingga dua puluh orang, bermesin diesel sehingga dapat melaju dengan cepat yang digunakan untuk mengangkut buku, materi pendidikan seperti laptop, kamera dan peralatan, juga fasilitator atau relawan yang merupakan profesional muda yang berkompeten dengan bidang ilmu yang dimiliki seperti fotografer, jurnalis, musisi hingga mahasiswa. Mereka tetap menerima sedikit uang saku untuk biaya makan dan transportasi.
Sekolah terapung merancang sendiri program pendidikan non-formal yang sesuai dengan konteks kehidupan di gugusan pulau tersebut. Seperti mengajarkan perlindungan lingkungan dan mencegah praktik penangkapan ikan yang merusak diperuntukkan bagi mereka yang bekerja di bidang perikanan mempunyai tanggung jawab untuk melestarikan kehidupan laut, dan sebagainya. Usia sekolah tersebut antara 12 hingga 20 tahun dan lebih dari 200 siswa telah bergabung yang berasal dari empat pulau yang berbeda.
Tujuannya Sekolah Terapung ini yaitu mengembangkan kemampuan para pemuda kepulauan di bidang media, teknologi, dan seni. Selain itu memberikan ruang yang luas-luasnya kepada pemuda untuk mengembangkan bakat sesuai passion dan minat mereka.
● Pendanaan Sekolah Terapung
Sekolah Terapung berdiri pada tahun 2016 setelah memenangkan pendanaan melalui kompetisi hibah Departemen Luar Negeri AS yang disebut Seeds for the Future, yang mendanai para pemimpin muda dari Asia Tenggara untuk melaksanakan proyek bagi komunitas mereka selanjutnya komunitas tersebut memfasilitasi listrik dari generator mereka sehingga fasilitator bisa mengajarkan kelas komputer, disediakan juga makan siang setelah kelas selesai, dan bahkan akomodasi penginapan jika ingin bermalam di pulau tersebut. Dan program kegiatan ini tidak menerima dana dari pemerintah daerah, mereka hanya memberi izin untuk menjalankan program kami di pulau-pulau tersebut.
● Sekolah Terapung Dan Bahan Ajar
Sebelum dimulai Sekolah Terapung, berdiskusi dahulu dengan generasi muda, tokoh masyarakat juga guru di pulau-pulau tersebut untuk mengetahui ragam topik yang paling diminati generasi muda tentang prioritas yang berbeda antara siswa dan generasi muda yang tidak bersekolah. Di Floating School ini ada 7 kelas kreatif yang membahas tentang sastra, komputer, menari, musik, prakarya (kerajinan tangan), menggambar dan fotografi selain itu siswa dapat memilih kelas berdasarkan minatnya masing-masing. Selalu mensupport siswa mengambil inspirasi dari sekitar mereka seperti membuat
kerajinan tangan dari bahan-bahan yang mudah ditemukan, misalnya cangkang kerang, jaring ikan bekas, dan daun kelapa. Untuk kelas menulis dengan cara mendeskripsikan atau mengamati yang ada di pulau tersebut.
● Sekolah Terapung Dan Keunikannya
Sekolah terapung dalam hal tempat dan waktu termasuk fleksibel dimana belajarnya dapat dimana saja seperti di atas perahu, pantai, rumah pohon, bawah pohon atau dermaga. Untuk jadwal kelasnya juga menyesuaikan waktu istirahat siswa selesai menangkap ikan.
Sekolah Terapung berbeda dengan sekolah pada umumnya tidak berpatokan pada kurikulum yang ada, mereka belajar melalui seni, media juga sastra. Uniknya lagi, siswa tidak diharuskan mengenakan seragam atau sepatu, dan fasilitator memperlakukan siswa secara setara, tanpa menghakimi mereka tujuannya agar siswa dapat menjadi diri sendiri sehingga percaya diri.
Oh, ya selama mendirikan Sekolah Terapung ini ada suatu momen yang paling berkesan atau membanggakan yaitu ketika bertanya pada beberapa siswa tentang rencana masa depan bahwa mereka tidak ingin meninggalkan pulau, namun ingin belajar di universitas dan kembali lagi melakukan sesuatu yang baik untuk kemajuan di pulau ini.
Atas kontribusinya dalam memajukan dunia pendidikan melalui Program Kegiatan Floating School atau Sekolah Terapung mengantarkan Rahmat Hidayat HM sebagai penerima apresiasi tingkat provinsi bidang pendidikan pada ajang penghargaan Satu Indonesia Awards (SIA) Astra 2018 lalu. Dari cerita perjuangan Rahmat dan 2 orang temannya yaitu Nur Al Marwah dan Rahmania Rahman mendirikan Sekolah Terapung, kita bisa mengambil pelajaran berharga bahwa sebagai makhluk sosial harus saling berbagi kebaikan kepada sesama. Jika kamu ingin tahu lebih lengkap tentang kegiatan-kegiatan yang diadakan Sekolah Terapung ini bisa kepoin media sosialnya di akun instagram : https://instagram.com/thefloatingschool
Terima kasih Astra atas apresiasi SATU Indonesia Awards (SIA) yang setiap tahun diadakan hingga menginjak tahun 2023 ini, SATU Indonesia Awards memasuki tahun ke empat belas dimana pertama kali dilaksanakan pada tahun 2010 lalu dimana tujuannya untuk memberikan dukungan secara berkelanjutan melalui bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan dan Teknologi, serta satu Kategori Kelompok yang mewakili lima bidang tersebut. Sukses dan jaya selalu!
Source Artikel By : https://www.britishcouncil.org/voices-magazine/floating-school-indonesia


